“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya”
Kalimat ini mungkin menjadi salah satu respons yang paling sering digunakan oleh customer service ketika menghadapi pelanggan yang marah. Sayangnya, dalam banyak situasi, permintaan maaf saja tidak cukup untuk meredakan emosi pelanggan. Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang justru menjadi semakin kesal setelah mendengarnya.
Mengapa bisa demikian?
Sering kali pelanggan belum membutuhkan solusi. Yang mereka butuhkan terlebih dahulu adalah didengar, dipahami, dan divalidasi emosinya.
Inilah mengapa kemampuan Complaint Handling menjadi salah satu kompetensi penting bagi setiap customer service, frontliner, sales, hingga tim yang berinteraksi langsung dengan pelanggan.
Baca juga: Customer Experience Management: Ketika Komunikasi Menjadi Kunci Kepuasan Pelanggan
Mengapa Permintaan Maaf Saja Tidak Selalu Efektif?
Ketika seorang pelanggan menyampaikan komplain, sebenarnya mereka tidak hanya sedang menceritakan sebuah masalah. Di balik keluhan tersebut, sering kali ada rasa kecewa, kesal, merasa dirugikan, atau bahkan merasa tidak dihargai sebagai pelanggan. Mereka ingin memastikan bahwa keluhannya didengarkan dan dianggap penting.
Jika respons pertama yang mereka terima hanya berupa kalimat, “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” tanpa diiringi empati atau upaya memahami apa yang sedang mereka rasakan, ucapan tersebut justru bisa terdengar seperti kalimat yang dihafal atau sekadar formalitas. Alih-alih merasa tenang, pelanggan bisa berpikir bahwa perusahaan hanya ingin segera mengakhiri percakapan, bukan benar-benar peduli terhadap masalah yang mereka alami.
Baca juga: Service Excellence di Era AI: Mengapa Human Touch Makin Bernilai Tinggi
Terapkan Metode S-M-K Saat Menghadapi Komplain Pelanggan
Pelanggan ingin didengar sebelum diberikan solusi. Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi saat menangani komplain adalah terlalu cepat memberikan solusi. Pendekatan yang dapat digunakan untuk menangani komplain pelanggan yang telah disusun oleh pakar akademisi dan praktisi di Talkactive adalah Model S-M-K (Simak – Maaf – Koreksi).
Alih-alih langsung meminta maaf, model ini mengajarkan bahwa proses komunikasi harus dimulai dengan menyimak terlebih dahulu. Berikan ruang kepada pelanggan untuk menjelaskan kronologi tanpa terburu-buru dipotong atau dibantah. Mendengarkan secara aktif membuat pelanggan merasa dihargai sekaligus membantu kita memahami akar permasalahan secara utuh.
Setelah itu, barulah sampaikan permintaan maaf dengan tulus sebagai bentuk empati, bukan sekadar formalitas. Permintaan maaf bukan berarti mengakui seluruh kesalahan perusahaan, melainkan menunjukkan kepedulian terhadap pengalaman yang dialami pelanggan.
Tahap terakhir adalah koreksi, yaitu memberikan solusi, tindak lanjut, atau perbaikan yang jelas sesuai kebutuhan pelanggan. Dengan urutan ini, komunikasi terasa lebih manusiawi dan pelanggan lebih terbuka menerima solusi yang ditawarkan.
Teori saja tidak cukup untuk menghadapi pelanggan marah. Bekali tim customer service Anda dengan teknik Complaint Handling dan komunikasi asertif yang tepat. Hubungi kami untuk merancang program pelatihan sesuai kebutuhan perusahaan Anda.
Baca juga: Digital Service Excellence: Mengapa Skill Komunikasi Jadi Standar Baru Pelayanan Profesional
Komunikasi Asertif: Tetap Profesional Tanpa Bersikap Defensif
Kesalahan lain yang sering terjadi saat menghadapi komplain adalah bersikap defensif. Misalnya dengan langsung menjelaskan SOP, mencari pembenaran, atau menyalahkan pihak lain sebelum pelanggan selesai berbicara.
Komunikasi yang efektif bukan berarti selalu mengiyakan pelanggan ataupun memenangkan argumen. Yang dibutuhkan adalah komunikasi asertif, yaitu kemampuan menyampaikan informasi secara jelas, jujur, dan tegas tanpa mengabaikan perasaan lawan bicara.
Baca juga: 5 KPI Service Excellence Terbaru 2026: Panduan HRD Mengukur ROI Training
Saatnya Tingkatkan Kemampuan Service Excellence Tim Anda
Komunikasi yang efektif tidak muncul begitu saja. Dibutuhkan pemahaman, latihan, dan simulasi agar setiap anggota tim mampu menghadapi berbagai karakter pelanggan dengan percaya diri.
Melalui Public Class Service Excellence & Complaint Handling pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Talkactive menghadirkan program pembelajaran yang interaktif dan aplikatif untuk membantu peserta meningkatkan kualitas pelayanan, menghadapi komplain dengan percaya diri, serta membangun loyalitas pelanggan melalui pengalaman yang berkesan.
Mari, investasikan kompetensi tim Anda hari ini untuk menghadirkan pelayanan yang menjadi keunggulan bisnis di masa depan.





