Tidak Perlu Berteriak untuk Didengar: Cara Komunikasi Asertif ala dr. Gia Pratama

Ilustrasi teknik komunikasi asertif di tempat kerja

Kalau kamu sempat menonton podcast Raditya Dika yang belakangan ramai diperbincangkan, kamu pasti ingat satu hal yang membuat dr. Gia Pratama langsung mencuri perhatian, bukan karena ia berteriak, bukan karena ia mendebat, tapi justru karena ia tidak melakukan keduanya.

Di tengah pasien yang panik, situasi IGD yang tidak pernah benar-benar tenang, dan lawan bicara yang tidak selalu mudah diyakinkan, dr. Gia tetap berbicara dengan nada rendah, runtut, dan terasa aman untuk didengarkan. Banyak yang menyebutnya soft spoken. Tapi kalau dilihat lebih dalam, yang ia praktikkan sebenarnya lebih dari sekadar berbicara pelan, ia sedang mencontohkan salah satu bentuk komunikasi asertif yang paling efektif.

Dan menariknya, cara komunikasi seperti ini tidak hanya relevan di ruang IGD. Ia sama bergunanya di ruang rapat, di percakapan dengan atasan, bahkan di obrolan sehari-hari yang menyangkut hal-hal yang sulit disampaikan.

Apa Itu Komunikasi Asertif? 

Sebelum masuk ke praktiknya, Kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi asertif, karena istilah tersebut sering kali disalahartikan. Asertif bukan berarti berani bicara keras. Bukan juga berarti selalu menang dalam argumen. Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur dan langsung tanpa menyerang lawan bicara, tapi juga tanpa menelan semuanya sendiri. Ia berada di tengah antara dua kutub yang berbeda, agresif di satu sisi, pasif di sisi yang lain.

Marshall Rosenberg, pendiri Nonviolent Communication (NVC), membangun seluruh pendekatannya di atas keyakinan yang sama, bahwa kebanyakan konflik terjadi bukan karena orang tidak mau bicara, tapi karena mereka tidak tahu cara menyampaikan kebutuhannya tanpa terdengar menyerang. Orang yang komunikasinya agresif cenderung memenangkan percakapan tapi merusak hubungan. Orang yang pasif cenderung menjaga suasana tapi mengorbankan dirinya sendiri. Nah, yang asertif seperti yang dr. Gia contohkan bisa melakukan keduanya sekaligus, menyampaikan kebenaran tanpa membuat orang lain merasa diserang.

Baca juga : Komunikasi Asertif di Kantor: Berhenti Jadi People Pleaser Tanpa Rasa Bersalah

Apa yang Bisa Dipelajari dari Cara Komunikasi dr. Gia? 

Dr. Gia tidak pernah secara eksplisit mengajarkan teori komunikasi. Tapi dari cara ia berbicara kepada pasien, kepada penonton, kepada siapa pun. Ada beberapa pola yang bisa dipelajari dan diterapkan.

1. Bicara dengan Nada yang Tidak Mengancam

Salah satu hal pertama yang langsung terasa dari dr. Gia adalah nada bicaranya yang tenang, tidak terburu-buru, tidak ada nada yang terdengar seperti menghakimi. Dan ini bukan kebetulan. Ia sendiri pernah mengakui bahwa ketenangan yang ia tampilkan di depan pasien adalah bagian dari profesionalismenya, bukan semata kepribadian bawaannya.

Dalam komunikasi sehari-hari, nada bicara sering kali lebih menentukan bagaimana pesan diterima dibandingkan kata-katanya sendiri. Kalimat yang sama bisa terdengar seperti kritik atau seperti perhatian, semuanya bergantung pada bagaimana cara mengatakannya. Menjaga nada yang tidak defensif dan tidak menekan membuat lawan bicara lebih terbuka untuk mendengarkan, bukan langsung membangun pertahanan.

2. Ikuti Alur Lawan Bicara Dulu, Baru Arahkan

Ada satu cerita yang paling sering dikutip dari penampilan dr. Gia di podcast Raditya Dika, tentang pasien yang percaya bahwa penyakitnya disebabkan oleh santet. Alih-alih langsung membantah atau menjelaskan dengan fakta medis, dr. Gia memilih untuk mengikuti alur kepercayaan pasien itu terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan mengarahkannya ke diagnosis yang sebenarnya, yaitu TBC.

Ini sejalan dengan prinsip yang dipegang Rosenberg dalam NVC, bahwa sebelum seseorang bisa benar-benar mendengarkan, ia perlu merasa didengar terlebih dahulu. Pendekatan ini bukan berarti menyetujui hal yang tidak benar.

Ini soal memilih momen yang tepat untuk menyampaikan kebenaran, ketika lawan bicara sudah merasa didengar dan tidak merasa diserang. Dalam konteks kerja, ini bisa berarti memahami sudut pandang rekan atau atasan terlebih dahulu sebelum menyampaikan perbedaan pendapat.

3. Jaga Konsistensi antara Kata dan Sikap

Yang membuat komunikasi dr. Gia terasa meyakinkan bukan hanya pilihan katanya, tapi juga karena apa yang ia ucapkan selaras dengan bagaimana ia bersikap. Senyumnya tidak terasa dipaksakan. Ketenangannya tidak terasa seperti dibuat-buat. Ada konsistensi antara apa yang ada di dalam dan apa yang ditampilkan ke luar.

Dalam komunikasi asertif, kongruensi ini penting. Ketika seseorang bicara dengan kata-kata yang tepat tapi bahasa tubuhnya menyiratkan ketidaknyamanan atau ketidaktulusan, pesan yang diterima lawan bicara sering kali bukan versi yang dimaksud. Menjaga keselarasan antara kata, nada, dan sikap adalah bagian dari komunikasi yang benar-benar efektif.

4. Sampaikan dengan Jelas, Tapi Tanpa Menghakimi

Dr. Gia tidak memutar-mutar kalimat hanya untuk menghindari ketidaknyamanan. Tapi ia juga tidak menyampaikan sesuatu dengan cara yang membuat lawan bicara merasa bodoh atau bersalah. Ada kejelasan dalam caranya berbicara tanpa arogansi di baliknya.

Rosenberg menyebut pendekatan ini sebagai inti dari komunikasi yang tidak melukai, fokus pada situasi dan perasaan, bukan pada penilaian terhadap karakter orang lain. Dalam praktiknya, ini bisa sesederhana memilih kalimat “saya merasa…” dibandingkan “kamu selalu…” ketika menyampaikan sesuatu yang sulit.

5. Beri Ruang untuk Lawan Bicara

Satu hal lagi yang konsisten terlihat dari dr. Gia adalah ia tidak mendominasi percakapan. Ia bertanya, ia mendengarkan, ia memberi ruang. Dan justru karena itu, orang-orang yang berbicara dengannya cenderung lebih terbuka.

Komunikasi asertif bukan monolog. Ia hanya bisa berjalan dengan baik ketika ada ruang yang cukup untuk lawan bicara merasa didengar, bukan hanya ditunggu gilirannya untuk dibantah. Mendengarkan secara aktif, bukan hanya pasif menunggu giliran bicara, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi asertif dan ini pula yang selalu Rosenberg tekankan sebagai fondasi dari komunikasi yang benar-benar manusiawi.

Baca juga : Komunikasi Asertif dan Manfaatnya di Tempat Kerja

Komunikasi Asertif Bisa Dipelajari 

Satu hal yang perlu digarisbawahi, dr. Gia sendiri pernah menyebut bahwa ketenangannya di depan pasien adalah sesuatu yang ia bangun secara sadar sebagai bagian dari profesionalismenya. Artinya, komunikasi seperti itu bukan bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, hal tersebut adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Tidak semua orang lahir dengan kemampuan berbicara tenang di tengah tekanan, atau menyampaikan pendapat tanpa rasa canggung. Tapi dengan pemahaman yang tepat dan latihan yang konsisten, siapa pun bisa membangun cara berkomunikasi yang lebih asertif di tempat kerja, dalam hubungan personal, atau di situasi apapun yang menuntut kejujuran yang tidak menyakiti.

Di Talkactive, kami menyediakan berbagai program pelatihan seperti Persuasive Communication & Negotiation Training dan Effective Communication for Team.

Program-program ini dirancang untuk membantu kamu membangun kemampuan komunikasi yang asertif, empatik, dan efektif, bukan hanya teorinya, tapi sampai ke cara mempraktikkannya dalam situasi nyata. Kamu bisa mengunjungi website resmi kami di www.talkactive.co.id atau mengikuti Instagram Talkactive untuk mendapatkan informasi terbaru.

Referensi:

Wikipedia. (2022). Komunikasi tanpa kekerasan. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_tanpa_kekerasan 

 

Share This:

Ilustrasi teknik komunikasi asertif di tempat kerja

Kalau kamu sempat menonton podcast Raditya Dika yang belakangan ramai diperbincangkan, kamu pasti ingat satu hal yang membuat dr. Gia Pratama langsung mencuri perhatian, bukan karena ia berteriak, bukan karena ia mendebat, tapi justru karena ia tidak melakukan keduanya.

Di tengah pasien yang panik, situasi IGD yang tidak pernah benar-benar tenang, dan lawan bicara yang tidak selalu mudah diyakinkan, dr. Gia tetap berbicara dengan nada rendah, runtut, dan terasa aman untuk didengarkan. Banyak yang menyebutnya soft spoken. Tapi kalau dilihat lebih dalam, yang ia praktikkan sebenarnya lebih dari sekadar berbicara pelan, ia sedang mencontohkan salah satu bentuk komunikasi asertif yang paling efektif.

Dan menariknya, cara komunikasi seperti ini tidak hanya relevan di ruang IGD. Ia sama bergunanya di ruang rapat, di percakapan dengan atasan, bahkan di obrolan sehari-hari yang menyangkut hal-hal yang sulit disampaikan.

Apa Itu Komunikasi Asertif? 

Sebelum masuk ke praktiknya, Kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi asertif, karena istilah tersebut sering kali disalahartikan. Asertif bukan berarti berani bicara keras. Bukan juga berarti selalu menang dalam argumen. Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur dan langsung tanpa menyerang lawan bicara, tapi juga tanpa menelan semuanya sendiri. Ia berada di tengah antara dua kutub yang berbeda, agresif di satu sisi, pasif di sisi yang lain.

Marshall Rosenberg, pendiri Nonviolent Communication (NVC), membangun seluruh pendekatannya di atas keyakinan yang sama, bahwa kebanyakan konflik terjadi bukan karena orang tidak mau bicara, tapi karena mereka tidak tahu cara menyampaikan kebutuhannya tanpa terdengar menyerang. Orang yang komunikasinya agresif cenderung memenangkan percakapan tapi merusak hubungan. Orang yang pasif cenderung menjaga suasana tapi mengorbankan dirinya sendiri. Nah, yang asertif seperti yang dr. Gia contohkan bisa melakukan keduanya sekaligus, menyampaikan kebenaran tanpa membuat orang lain merasa diserang.

Baca juga : Komunikasi Asertif di Kantor: Berhenti Jadi People Pleaser Tanpa Rasa Bersalah

Apa yang Bisa Dipelajari dari Cara Komunikasi dr. Gia? 

Dr. Gia tidak pernah secara eksplisit mengajarkan teori komunikasi. Tapi dari cara ia berbicara kepada pasien, kepada penonton, kepada siapa pun. Ada beberapa pola yang bisa dipelajari dan diterapkan.

1. Bicara dengan Nada yang Tidak Mengancam

Salah satu hal pertama yang langsung terasa dari dr. Gia adalah nada bicaranya yang tenang, tidak terburu-buru, tidak ada nada yang terdengar seperti menghakimi. Dan ini bukan kebetulan. Ia sendiri pernah mengakui bahwa ketenangan yang ia tampilkan di depan pasien adalah bagian dari profesionalismenya, bukan semata kepribadian bawaannya.

Dalam komunikasi sehari-hari, nada bicara sering kali lebih menentukan bagaimana pesan diterima dibandingkan kata-katanya sendiri. Kalimat yang sama bisa terdengar seperti kritik atau seperti perhatian, semuanya bergantung pada bagaimana cara mengatakannya. Menjaga nada yang tidak defensif dan tidak menekan membuat lawan bicara lebih terbuka untuk mendengarkan, bukan langsung membangun pertahanan.

2. Ikuti Alur Lawan Bicara Dulu, Baru Arahkan

Ada satu cerita yang paling sering dikutip dari penampilan dr. Gia di podcast Raditya Dika, tentang pasien yang percaya bahwa penyakitnya disebabkan oleh santet. Alih-alih langsung membantah atau menjelaskan dengan fakta medis, dr. Gia memilih untuk mengikuti alur kepercayaan pasien itu terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan mengarahkannya ke diagnosis yang sebenarnya, yaitu TBC.

Ini sejalan dengan prinsip yang dipegang Rosenberg dalam NVC, bahwa sebelum seseorang bisa benar-benar mendengarkan, ia perlu merasa didengar terlebih dahulu. Pendekatan ini bukan berarti menyetujui hal yang tidak benar.

Ini soal memilih momen yang tepat untuk menyampaikan kebenaran, ketika lawan bicara sudah merasa didengar dan tidak merasa diserang. Dalam konteks kerja, ini bisa berarti memahami sudut pandang rekan atau atasan terlebih dahulu sebelum menyampaikan perbedaan pendapat.

3. Jaga Konsistensi antara Kata dan Sikap

Yang membuat komunikasi dr. Gia terasa meyakinkan bukan hanya pilihan katanya, tapi juga karena apa yang ia ucapkan selaras dengan bagaimana ia bersikap. Senyumnya tidak terasa dipaksakan. Ketenangannya tidak terasa seperti dibuat-buat. Ada konsistensi antara apa yang ada di dalam dan apa yang ditampilkan ke luar.

Dalam komunikasi asertif, kongruensi ini penting. Ketika seseorang bicara dengan kata-kata yang tepat tapi bahasa tubuhnya menyiratkan ketidaknyamanan atau ketidaktulusan, pesan yang diterima lawan bicara sering kali bukan versi yang dimaksud. Menjaga keselarasan antara kata, nada, dan sikap adalah bagian dari komunikasi yang benar-benar efektif.

4. Sampaikan dengan Jelas, Tapi Tanpa Menghakimi

Dr. Gia tidak memutar-mutar kalimat hanya untuk menghindari ketidaknyamanan. Tapi ia juga tidak menyampaikan sesuatu dengan cara yang membuat lawan bicara merasa bodoh atau bersalah. Ada kejelasan dalam caranya berbicara tanpa arogansi di baliknya.

Rosenberg menyebut pendekatan ini sebagai inti dari komunikasi yang tidak melukai, fokus pada situasi dan perasaan, bukan pada penilaian terhadap karakter orang lain. Dalam praktiknya, ini bisa sesederhana memilih kalimat “saya merasa…” dibandingkan “kamu selalu…” ketika menyampaikan sesuatu yang sulit.

5. Beri Ruang untuk Lawan Bicara

Satu hal lagi yang konsisten terlihat dari dr. Gia adalah ia tidak mendominasi percakapan. Ia bertanya, ia mendengarkan, ia memberi ruang. Dan justru karena itu, orang-orang yang berbicara dengannya cenderung lebih terbuka.

Komunikasi asertif bukan monolog. Ia hanya bisa berjalan dengan baik ketika ada ruang yang cukup untuk lawan bicara merasa didengar, bukan hanya ditunggu gilirannya untuk dibantah. Mendengarkan secara aktif, bukan hanya pasif menunggu giliran bicara, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi asertif dan ini pula yang selalu Rosenberg tekankan sebagai fondasi dari komunikasi yang benar-benar manusiawi.

Baca juga : Komunikasi Asertif dan Manfaatnya di Tempat Kerja

Komunikasi Asertif Bisa Dipelajari 

Satu hal yang perlu digarisbawahi, dr. Gia sendiri pernah menyebut bahwa ketenangannya di depan pasien adalah sesuatu yang ia bangun secara sadar sebagai bagian dari profesionalismenya. Artinya, komunikasi seperti itu bukan bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, hal tersebut adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Tidak semua orang lahir dengan kemampuan berbicara tenang di tengah tekanan, atau menyampaikan pendapat tanpa rasa canggung. Tapi dengan pemahaman yang tepat dan latihan yang konsisten, siapa pun bisa membangun cara berkomunikasi yang lebih asertif di tempat kerja, dalam hubungan personal, atau di situasi apapun yang menuntut kejujuran yang tidak menyakiti.

Di Talkactive, kami menyediakan berbagai program pelatihan seperti Persuasive Communication & Negotiation Training dan Effective Communication for Team.

Program-program ini dirancang untuk membantu kamu membangun kemampuan komunikasi yang asertif, empatik, dan efektif, bukan hanya teorinya, tapi sampai ke cara mempraktikkannya dalam situasi nyata. Kamu bisa mengunjungi website resmi kami di www.talkactive.co.id atau mengikuti Instagram Talkactive untuk mendapatkan informasi terbaru.

Referensi:

Wikipedia. (2022). Komunikasi tanpa kekerasan. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_tanpa_kekerasan 

 

Share This:

More Articles

News

No results found.
Buka
Butuh Bantuan?
Halo, Kawan Bicara!
Ada yang bisa kami bantu?