Cara Menyampaikan Kritik ke Atasan Tanpa Terlihat Menggurui

Cara Menyampaikan Kritik ke Atasan Tanpa Terlihat Menggurui

Menyampaikan kritik kepada atasan adalah salah satu tantangan komunikasi paling sensitif di dunia kerja. Di satu sisi, karyawan diharapkan memiliki keberanian menyampaikan masukan demi perbaikan. Di sisi lain, cara penyampaian yang kurang tepat dapat membuat kritik terdengar menggurui, defensif, atau bahkan dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang cermat agar kritik dapat diterima dengan baik dan tetap menjaga hubungan profesional.

Menurut Kim Scott, penulis buku Radical Candor, kritik yang efektif bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kepedulian dan kejelasan disampaikan secara seimbang. Kritik akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan niat membangun, bukan menghakimi.

1. Pastikan Niat dan Tujuan yang Jelas

Sebelum menyampaikan kritik, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kritik ini bertujuan memperbaiki situasi atau sekadar meluapkan emosi? Atasan akan lebih terbuka jika mereka merasakan bahwa masukan datang dari kepedulian terhadap tim atau kinerja bersama.

Pakar komunikasi menyarankan untuk merumuskan tujuan kritik dalam satu kalimat sederhana, agar penyampaian tetap fokus dan tidak melebar ke opini pribadi.

2. Pilih Waktu dan Situasi yang Tepat

Timing sangat menentukan efektivitas kritik. Menyampaikan masukan di depan umum atau saat atasan sedang tertekan dapat memicu reaksi defensif. Sebaiknya kritik disampaikan secara pribadi, dalam suasana yang tenang dan kondusif.

3. Gunakan Bahasa Netral dan Berbasis Fakta

Kritik yang terdengar menggurui biasanya muncul dari penggunaan kata-kata absolut seperti “selalu”, “seharusnya”, atau “salah”. Gantilah dengan bahasa netral dan berbasis observasi, misalnya dengan menyebutkan situasi spesifik yang terjadi.

Teknik ini sejalan dengan prinsip Nonviolent Communication dari Marshall Rosenberg, yang menekankan pemisahan antara fakta dan penilaian pribadi agar komunikasi tetap konstruktif. Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh, Ferik Trianda yang merupakan salah satu expert Talkactive, yang selalu menggunakan model CCP dalam menyampaikan informasi.

4. Gunakan Perspektif “Saya”, Bukan “Anda”

Menggunakan kalimat dengan sudut pandang “saya” membantu mengurangi kesan menyalahkan. Alih-alih berkata, “Bapak seharusnya melakukan ini,” lebih baik mengatakan, “Saya merasa proses ini bisa lebih efektif jika…”.

Pendekatan ini membuat kritik terdengar sebagai pandangan pribadi, bukan instruksi atau ceramah.

5. Sertakan Solusi atau Alternatif

Kritik tanpa solusi sering dianggap sebagai keluhan. Dengan menawarkan alternatif, Anda menunjukkan sikap proaktif dan kontribusi nyata. Solusi tidak harus sempurna, tetapi cukup menunjukkan bahwa Anda telah memikirkan dampaknya bagi tim atau pekerjaan.

Ahli manajemen menyebutkan bahwa atasan cenderung lebih menerima masukan yang disertai opsi, bukan hanya masalah.

6. Jaga Nada dan Bahasa Tubuh

Selain kata-kata, nada suara dan bahasa tubuh sangat berpengaruh. Nada yang tenang, kontak mata yang wajar, serta sikap terbuka membantu menciptakan kesan hormat dan profesional. Komunikasi nonverbal yang tepat dapat memperkuat pesan bahwa kritik disampaikan dengan niat baik.

Menyampaikan kritik ke atasan bukan tentang menunjukkan siapa yang paling tahu, melainkan tentang membangun komunikasi yang sehat dan saling menghargai. Dengan niat yang jelas, waktu yang tepat, bahasa netral, serta pendekatan yang solutif, kritik dapat disampaikan tanpa terkesan menggurui. Di lingkungan kerja yang dewasa, kritik yang disampaikan dengan cara yang tepat justru menjadi tanda profesionalisme dan kepedulian.

Talkactive, sebagai lembaga pusat pelatihan softskill di Indonesia yang telah dipercaya oleh ribuan orang, juga memiliki teknik khusus yakni menggunakan metode Burger, dalam memberikan feedback atau masukan ke atasan. Metode Burger adalah teknik pemberian feedback yang menekankan keseimbangan antara empati dan kejelasan pesan. Seperti susunan burger, metode ini dimulai dengan apresiasi atau konteks positif sebagai “roti atas”, dilanjutkan dengan inti masukan atau kritik yang disampaikan secara objektif dan spesifik sebagai “isi”, lalu ditutup dengan penegasan niat baik, dukungan, atau harapan ke depan sebagai “roti bawah”. 

Pendekatan ini membuat feedback terasa lebih aman, tidak menggurui, dan lebih mudah diterima, terutama saat menyampaikan masukan ke atasan atau rekan kerja senior. Tertarik untuk mempelajari strategi komunikasi lainnya? Talkactive siap membantu dari program pelatihan berbasis Adult Learning Theory yang dikemas lewat fun learning

FAQ

  1. Apakah menyampaikan kritik ke atasan bisa dianggap tidak sopan?
    Tidak, selama disampaikan dengan niat membangun, bahasa yang netral, dan pada waktu yang tepat. Banyak atasan justru menghargai masukan yang membantu perbaikan kinerja tim.
  2. Kapan waktu yang paling tepat untuk menyampaikan kritik kepada atasan?
    Waktu terbaik adalah saat suasana tenang dan dilakukan secara pribadi. Hindari menyampaikan kritik di depan umum atau ketika atasan sedang berada dalam tekanan tinggi.
  3.  Bagaimana jika atasan terlihat defensif saat menerima kritik?
    Tetap jaga nada bicara, fokus pada fakta, dan tekankan bahwa tujuan masukan adalah untuk perbaikan bersama. Jika situasi tidak kondusif, lebih baik hentikan pembicaraan dan lanjutkan di waktu lain.
  4. Apakah kritik harus selalu disertai solusi?
    Sebaiknya iya. Kritik yang disertai solusi atau alternatif akan terdengar lebih konstruktif dan menunjukkan sikap proaktif, bukan sekadar keluhan. Anda dapat menggunakan Burger Method yang dapat membantu kritik lebih mudah diterima, terutama saat disampaikan kepada atasan atau rekan kerja senior.
  5. Bagaimana cara menyampaikan kritik tanpa terdengar menggurui?
    Gunakan sudut pandang “saya”, hindari kata-kata menghakimi, dan sampaikan kritik sebagai masukan, bukan instruksi. Nada yang tenang dan sikap hormat sangat membantu.

 

Share This:

Cara Menyampaikan Kritik ke Atasan Tanpa Terlihat Menggurui

Menyampaikan kritik kepada atasan adalah salah satu tantangan komunikasi paling sensitif di dunia kerja. Di satu sisi, karyawan diharapkan memiliki keberanian menyampaikan masukan demi perbaikan. Di sisi lain, cara penyampaian yang kurang tepat dapat membuat kritik terdengar menggurui, defensif, atau bahkan dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang cermat agar kritik dapat diterima dengan baik dan tetap menjaga hubungan profesional.

Menurut Kim Scott, penulis buku Radical Candor, kritik yang efektif bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kepedulian dan kejelasan disampaikan secara seimbang. Kritik akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan niat membangun, bukan menghakimi.

1. Pastikan Niat dan Tujuan yang Jelas

Sebelum menyampaikan kritik, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kritik ini bertujuan memperbaiki situasi atau sekadar meluapkan emosi? Atasan akan lebih terbuka jika mereka merasakan bahwa masukan datang dari kepedulian terhadap tim atau kinerja bersama.

Pakar komunikasi menyarankan untuk merumuskan tujuan kritik dalam satu kalimat sederhana, agar penyampaian tetap fokus dan tidak melebar ke opini pribadi.

2. Pilih Waktu dan Situasi yang Tepat

Timing sangat menentukan efektivitas kritik. Menyampaikan masukan di depan umum atau saat atasan sedang tertekan dapat memicu reaksi defensif. Sebaiknya kritik disampaikan secara pribadi, dalam suasana yang tenang dan kondusif.

3. Gunakan Bahasa Netral dan Berbasis Fakta

Kritik yang terdengar menggurui biasanya muncul dari penggunaan kata-kata absolut seperti “selalu”, “seharusnya”, atau “salah”. Gantilah dengan bahasa netral dan berbasis observasi, misalnya dengan menyebutkan situasi spesifik yang terjadi.

Teknik ini sejalan dengan prinsip Nonviolent Communication dari Marshall Rosenberg, yang menekankan pemisahan antara fakta dan penilaian pribadi agar komunikasi tetap konstruktif. Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh, Ferik Trianda yang merupakan salah satu expert Talkactive, yang selalu menggunakan model CCP dalam menyampaikan informasi.

4. Gunakan Perspektif “Saya”, Bukan “Anda”

Menggunakan kalimat dengan sudut pandang “saya” membantu mengurangi kesan menyalahkan. Alih-alih berkata, “Bapak seharusnya melakukan ini,” lebih baik mengatakan, “Saya merasa proses ini bisa lebih efektif jika…”.

Pendekatan ini membuat kritik terdengar sebagai pandangan pribadi, bukan instruksi atau ceramah.

5. Sertakan Solusi atau Alternatif

Kritik tanpa solusi sering dianggap sebagai keluhan. Dengan menawarkan alternatif, Anda menunjukkan sikap proaktif dan kontribusi nyata. Solusi tidak harus sempurna, tetapi cukup menunjukkan bahwa Anda telah memikirkan dampaknya bagi tim atau pekerjaan.

Ahli manajemen menyebutkan bahwa atasan cenderung lebih menerima masukan yang disertai opsi, bukan hanya masalah.

6. Jaga Nada dan Bahasa Tubuh

Selain kata-kata, nada suara dan bahasa tubuh sangat berpengaruh. Nada yang tenang, kontak mata yang wajar, serta sikap terbuka membantu menciptakan kesan hormat dan profesional. Komunikasi nonverbal yang tepat dapat memperkuat pesan bahwa kritik disampaikan dengan niat baik.

Menyampaikan kritik ke atasan bukan tentang menunjukkan siapa yang paling tahu, melainkan tentang membangun komunikasi yang sehat dan saling menghargai. Dengan niat yang jelas, waktu yang tepat, bahasa netral, serta pendekatan yang solutif, kritik dapat disampaikan tanpa terkesan menggurui. Di lingkungan kerja yang dewasa, kritik yang disampaikan dengan cara yang tepat justru menjadi tanda profesionalisme dan kepedulian.

Talkactive, sebagai lembaga pusat pelatihan softskill di Indonesia yang telah dipercaya oleh ribuan orang, juga memiliki teknik khusus yakni menggunakan metode Burger, dalam memberikan feedback atau masukan ke atasan. Metode Burger adalah teknik pemberian feedback yang menekankan keseimbangan antara empati dan kejelasan pesan. Seperti susunan burger, metode ini dimulai dengan apresiasi atau konteks positif sebagai “roti atas”, dilanjutkan dengan inti masukan atau kritik yang disampaikan secara objektif dan spesifik sebagai “isi”, lalu ditutup dengan penegasan niat baik, dukungan, atau harapan ke depan sebagai “roti bawah”. 

Pendekatan ini membuat feedback terasa lebih aman, tidak menggurui, dan lebih mudah diterima, terutama saat menyampaikan masukan ke atasan atau rekan kerja senior. Tertarik untuk mempelajari strategi komunikasi lainnya? Talkactive siap membantu dari program pelatihan berbasis Adult Learning Theory yang dikemas lewat fun learning

FAQ

  1. Apakah menyampaikan kritik ke atasan bisa dianggap tidak sopan?
    Tidak, selama disampaikan dengan niat membangun, bahasa yang netral, dan pada waktu yang tepat. Banyak atasan justru menghargai masukan yang membantu perbaikan kinerja tim.
  2. Kapan waktu yang paling tepat untuk menyampaikan kritik kepada atasan?
    Waktu terbaik adalah saat suasana tenang dan dilakukan secara pribadi. Hindari menyampaikan kritik di depan umum atau ketika atasan sedang berada dalam tekanan tinggi.
  3.  Bagaimana jika atasan terlihat defensif saat menerima kritik?
    Tetap jaga nada bicara, fokus pada fakta, dan tekankan bahwa tujuan masukan adalah untuk perbaikan bersama. Jika situasi tidak kondusif, lebih baik hentikan pembicaraan dan lanjutkan di waktu lain.
  4. Apakah kritik harus selalu disertai solusi?
    Sebaiknya iya. Kritik yang disertai solusi atau alternatif akan terdengar lebih konstruktif dan menunjukkan sikap proaktif, bukan sekadar keluhan. Anda dapat menggunakan Burger Method yang dapat membantu kritik lebih mudah diterima, terutama saat disampaikan kepada atasan atau rekan kerja senior.
  5. Bagaimana cara menyampaikan kritik tanpa terdengar menggurui?
    Gunakan sudut pandang “saya”, hindari kata-kata menghakimi, dan sampaikan kritik sebagai masukan, bukan instruksi. Nada yang tenang dan sikap hormat sangat membantu.

 

Share This:

More Articles

News

No results found.
Buka
Butuh Bantuan?
Halo, Kawan Bicara!
Ada yang bisa kami bantu?