Dr. Noveri: Saat Ekonomi Bergejolak, Business Owner Perlu Menahan Ekspansi dan Fokus Memperkuat Internal

Dr Noveri menjelaskan strategi bisnis saat ekonomi bergejolak

Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian menjadi tantangan yang dihadapi hampir seluruh pelaku usaha. Kenaikan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar, perlambatan ekonomi global, hingga dinamika perdagangan internasional membuat banyak perusahaan harus meninjau kembali strategi bisnis yang telah disusun. Dalam situasi seperti ini, keputusan yang diambil oleh seorang business owner menjadi sangat menentukan keberlangsungan usahanya.

Founder Talkactive sekaligus Associate Professor PPM School of Management dan Business Consultant, Dr. Noveri Maulana, menilai bahwa kondisi ekonomi saat ini memang sedang mengalami guncangan. Meski tingkat dampaknya berbeda pada setiap sektor industri, seluruh pelaku usaha tetap dituntut untuk lebih waspada dalam mengambil keputusan bisnis. Menurutnya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengambil langkah agresif, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi internal perusahaan.

Ekonomi Sedang Mengalami Guncangan

Dr. Noveri menjelaskan bahwa dunia usaha saat ini berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya stabil. Ada sektor yang merasakan tekanan cukup besar, sementara sektor lainnya hanya mengalami perlambatan ringan. Namun, satu hal yang sama adalah semua perusahaan harus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali perusahaan. Mulai dari perubahan nilai tukar mata uang, konflik geopolitik, aktivitas ekspor dan impor, hingga kondisi ekonomi global yang masih berfluktuasi. Semua faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap biaya operasional perusahaan, harga bahan baku, distribusi produk, hingga daya beli masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, menurut Dr. Noveri, business owner perlu menerapkan pendekatan wait and see. Strategi tersebut bukan berarti berhenti menjalankan bisnis, melainkan mengambil langkah secara lebih terukur sambil terus mengamati perkembangan situasi.

Baca juga : Turnover Karyawan Tinggi: Mengapa Terjadi dan Apa Resikonya bagi Keberlangsungan Bisnis?

Mengapa Banyak Bisnis Memilih Wait and See?

Di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak perusahaan mulai mengubah strategi pertumbuhannya. Jika sebelumnya ekspansi menjadi prioritas, kini banyak pelaku usaha memilih menahan berbagai rencana investasi hingga kondisi pasar menunjukkan arah yang lebih jelas.

Menurut Dr. Noveri, langkah tersebut merupakan bentuk kehati-hatian, bukan tanda bahwa perusahaan kehilangan optimisme. Beberapa keputusan yang sebaiknya dipertimbangkan antara lain menunda pembukaan cabang baru, mengurangi pembelian aset jangka panjang, serta menghindari investasi besar yang belum menjadi kebutuhan mendesak. Langkah ini bertujuan menjaga likuiditas perusahaan agar tetap memiliki ruang gerak ketika menghadapi perubahan pasar.

Selain itu, perusahaan juga perlu menghindari pengeluaran besar yang hanya didorong oleh ambisi pertumbuhan jangka pendek. Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, menjaga kesehatan keuangan perusahaan menjadi prioritas yang jauh lebih penting. Menahan ekspansi bukan berarti menghentikan pertumbuhan bisnis. Sebaliknya, langkah tersebut memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk memperkuat fondasi sehingga ketika kondisi ekonomi membaik, perusahaan telah siap melakukan akselerasi dengan lebih matang.

Fokus pada Penguatan Internal Perusahaan

Apabila ekspansi ditunda, lalu apa yang seharusnya menjadi fokus utama business owner?

Menurut Dr. Noveri, inilah saat yang tepat untuk melakukan pembenahan dari dalam organisasi. Banyak perusahaan terlalu sibuk mengejar pertumbuhan sehingga lupa mengevaluasi apakah sistem internal mereka sudah berjalan secara optimal. Penguatan internal dapat dimulai dari mengevaluasi proses operasional perusahaan. Business owner perlu melihat kembali apakah setiap aktivitas benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis. Proses yang tidak efisien perlu diperbaiki, sementara biaya-biaya yang kurang produktif harus mulai dikendalikan.

Selain operasional, perusahaan juga perlu mengevaluasi efektivitas struktur organisasi, pembagian tugas, hingga produktivitas setiap divisi. Dengan memahami kondisi internal secara menyeluruh, perusahaan dapat menemukan peluang perbaikan tanpa harus selalu mengeluarkan investasi baru. Dr. Noveri menilai bahwa masa perlambatan ekonomi justru dapat dimanfaatkan sebagai waktu terbaik untuk memperkuat fondasi organisasi. Ketika kondisi pasar kembali pulih, perusahaan yang memiliki sistem internal yang sehat akan lebih siap memanfaatkan peluang dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada ekspansi.

Baca juga : Strategi Membangun Reputasi Brand: Kunci Agar Bisnismu Lebih Dipercaya

Hindari “Bakar Uang” di Masa Sulit

Salah satu pesan yang ditekankan Dr. Noveri adalah pentingnya mengendalikan pengeluaran perusahaan. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan berbagai aktivitas yang menghabiskan dana besar tanpa perhitungan yang matang.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit perusahaan yang mengejar pertumbuhan melalui pengeluaran besar, baik untuk ekspansi, promosi, maupun investasi yang agresif. Namun, strategi tersebut menjadi jauh lebih berisiko ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak. Business owner perlu memastikan bahwa setiap pengeluaran benar-benar memiliki manfaat yang jelas terhadap keberlangsungan bisnis. Keputusan investasi harus didasarkan pada kebutuhan perusahaan, bukan sekadar mengikuti tren pasar atau ambisi pertumbuhan jangka pendek.

Prinsip kehati-hatian menjadi penting agar perusahaan tetap memiliki cadangan sumber daya ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

Baca juga : AI Adoption Strategy dalam Bisnis: Tantangan Baru bagi Profesional di Era Digital

Pentingnya Cadangan Kas Operasional

Selain menjaga efisiensi, Dr. Noveri juga menyoroti pentingnya memiliki cadangan kas operasional. Menurutnya, kemampuan sebuah perusahaan bertahan tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet, tetapi juga oleh kesiapan finansial dalam menghadapi masa-masa sulit. Cadangan operasional menjadi penyangga ketika terjadi penurunan pendapatan, kenaikan biaya produksi, maupun perlambatan permintaan pasar. Dengan adanya dana cadangan, perusahaan memiliki waktu untuk melakukan penyesuaian strategi tanpa harus mengambil keputusan yang tergesa-gesa.

Dr. Noveri menyarankan agar perusahaan memiliki cadangan dana yang mampu menopang kebutuhan operasional setidaknya selama enam bulan. Jika kondisi keuangan memungkinkan, cadangan untuk satu hingga tiga tahun akan memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap berbagai risiko ekonomi. Cadangan tersebut bukan hanya menjadi bentuk antisipasi terhadap kondisi saat ini, tetapi juga bagian dari strategi keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

Bertahan Hari Ini untuk Tumbuh di Masa Depan

Tidak ada pelaku usaha yang menginginkan perlambatan ekonomi. Namun, setiap siklus bisnis selalu menghadirkan tantangan yang harus dihadapi. Dalam pandangan Dr. Noveri, masa sulit tidak seharusnya direspons dengan kepanikan ataupun keputusan yang terlalu agresif. Sebaliknya, kondisi ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat perusahaan dari dalam. Menahan ekspansi, mengelola pengeluaran secara lebih disiplin, memperbaiki proses operasional, serta menjaga kesehatan keuangan merupakan langkah-langkah yang dapat meningkatkan daya tahan bisnis.

Ketika kondisi ekonomi kembali membaik, perusahaan yang telah memiliki pondasi yang kuat akan lebih siap melakukan pengembangan dibandingkan mereka yang terlalu banyak mengambil risiko di masa ketidakpastian. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia bertumbuh, tetapi juga oleh kemampuannya bertahan ketika menghadapi tekanan. Seperti yang disampaikan Dr. Noveri, saat ekonomi bergejolak, fokus utama seorang business owner bukanlah mempercepat ekspansi, melainkan memastikan perusahaan tetap sehat, efisien, dan siap menyambut peluang di masa depan.

Sebagai lembaga yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan, komunikasi, dan kapabilitas organisasi, Talkactive menghadirkan berbagai program pelatihan (training), bimibingan (coaching), dan konsultasi (consulting) bagi business owner maupun perusahaan untuk membantu membangun bisnis yang lebih tangguh di tengah dinamika ekonomi. Bisnis yang mampu bertahan bukan hanya yang memiliki modal besar, tetapi juga yang dipimpin oleh pemimpin yang siap menghadapi perubahan.

Sumber:

  • Wawancara Tim Talkactive dengan Dr. Noveri Maulana (Board of Expert Talkactive) pada Minggu, 21 Juni 2026
  • International Monetary Fund. (2025). World Economic Outlook.
  • McKinsey & Company. Strategy & Corporate Finance Insights
  • World Bank. (2025). Global Economic Prospects
  • World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.

 

Share This:

Dr Noveri menjelaskan strategi bisnis saat ekonomi bergejolak

Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian menjadi tantangan yang dihadapi hampir seluruh pelaku usaha. Kenaikan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar, perlambatan ekonomi global, hingga dinamika perdagangan internasional membuat banyak perusahaan harus meninjau kembali strategi bisnis yang telah disusun. Dalam situasi seperti ini, keputusan yang diambil oleh seorang business owner menjadi sangat menentukan keberlangsungan usahanya.

Founder Talkactive sekaligus Associate Professor PPM School of Management dan Business Consultant, Dr. Noveri Maulana, menilai bahwa kondisi ekonomi saat ini memang sedang mengalami guncangan. Meski tingkat dampaknya berbeda pada setiap sektor industri, seluruh pelaku usaha tetap dituntut untuk lebih waspada dalam mengambil keputusan bisnis. Menurutnya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengambil langkah agresif, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi internal perusahaan.

Ekonomi Sedang Mengalami Guncangan

Dr. Noveri menjelaskan bahwa dunia usaha saat ini berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya stabil. Ada sektor yang merasakan tekanan cukup besar, sementara sektor lainnya hanya mengalami perlambatan ringan. Namun, satu hal yang sama adalah semua perusahaan harus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali perusahaan. Mulai dari perubahan nilai tukar mata uang, konflik geopolitik, aktivitas ekspor dan impor, hingga kondisi ekonomi global yang masih berfluktuasi. Semua faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap biaya operasional perusahaan, harga bahan baku, distribusi produk, hingga daya beli masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, menurut Dr. Noveri, business owner perlu menerapkan pendekatan wait and see. Strategi tersebut bukan berarti berhenti menjalankan bisnis, melainkan mengambil langkah secara lebih terukur sambil terus mengamati perkembangan situasi.

Baca juga : Turnover Karyawan Tinggi: Mengapa Terjadi dan Apa Resikonya bagi Keberlangsungan Bisnis?

Mengapa Banyak Bisnis Memilih Wait and See?

Di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak perusahaan mulai mengubah strategi pertumbuhannya. Jika sebelumnya ekspansi menjadi prioritas, kini banyak pelaku usaha memilih menahan berbagai rencana investasi hingga kondisi pasar menunjukkan arah yang lebih jelas.

Menurut Dr. Noveri, langkah tersebut merupakan bentuk kehati-hatian, bukan tanda bahwa perusahaan kehilangan optimisme. Beberapa keputusan yang sebaiknya dipertimbangkan antara lain menunda pembukaan cabang baru, mengurangi pembelian aset jangka panjang, serta menghindari investasi besar yang belum menjadi kebutuhan mendesak. Langkah ini bertujuan menjaga likuiditas perusahaan agar tetap memiliki ruang gerak ketika menghadapi perubahan pasar.

Selain itu, perusahaan juga perlu menghindari pengeluaran besar yang hanya didorong oleh ambisi pertumbuhan jangka pendek. Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, menjaga kesehatan keuangan perusahaan menjadi prioritas yang jauh lebih penting. Menahan ekspansi bukan berarti menghentikan pertumbuhan bisnis. Sebaliknya, langkah tersebut memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk memperkuat fondasi sehingga ketika kondisi ekonomi membaik, perusahaan telah siap melakukan akselerasi dengan lebih matang.

Fokus pada Penguatan Internal Perusahaan

Apabila ekspansi ditunda, lalu apa yang seharusnya menjadi fokus utama business owner?

Menurut Dr. Noveri, inilah saat yang tepat untuk melakukan pembenahan dari dalam organisasi. Banyak perusahaan terlalu sibuk mengejar pertumbuhan sehingga lupa mengevaluasi apakah sistem internal mereka sudah berjalan secara optimal. Penguatan internal dapat dimulai dari mengevaluasi proses operasional perusahaan. Business owner perlu melihat kembali apakah setiap aktivitas benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis. Proses yang tidak efisien perlu diperbaiki, sementara biaya-biaya yang kurang produktif harus mulai dikendalikan.

Selain operasional, perusahaan juga perlu mengevaluasi efektivitas struktur organisasi, pembagian tugas, hingga produktivitas setiap divisi. Dengan memahami kondisi internal secara menyeluruh, perusahaan dapat menemukan peluang perbaikan tanpa harus selalu mengeluarkan investasi baru. Dr. Noveri menilai bahwa masa perlambatan ekonomi justru dapat dimanfaatkan sebagai waktu terbaik untuk memperkuat fondasi organisasi. Ketika kondisi pasar kembali pulih, perusahaan yang memiliki sistem internal yang sehat akan lebih siap memanfaatkan peluang dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada ekspansi.

Baca juga : Strategi Membangun Reputasi Brand: Kunci Agar Bisnismu Lebih Dipercaya

Hindari “Bakar Uang” di Masa Sulit

Salah satu pesan yang ditekankan Dr. Noveri adalah pentingnya mengendalikan pengeluaran perusahaan. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan berbagai aktivitas yang menghabiskan dana besar tanpa perhitungan yang matang.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit perusahaan yang mengejar pertumbuhan melalui pengeluaran besar, baik untuk ekspansi, promosi, maupun investasi yang agresif. Namun, strategi tersebut menjadi jauh lebih berisiko ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak. Business owner perlu memastikan bahwa setiap pengeluaran benar-benar memiliki manfaat yang jelas terhadap keberlangsungan bisnis. Keputusan investasi harus didasarkan pada kebutuhan perusahaan, bukan sekadar mengikuti tren pasar atau ambisi pertumbuhan jangka pendek.

Prinsip kehati-hatian menjadi penting agar perusahaan tetap memiliki cadangan sumber daya ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

Baca juga : AI Adoption Strategy dalam Bisnis: Tantangan Baru bagi Profesional di Era Digital

Pentingnya Cadangan Kas Operasional

Selain menjaga efisiensi, Dr. Noveri juga menyoroti pentingnya memiliki cadangan kas operasional. Menurutnya, kemampuan sebuah perusahaan bertahan tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet, tetapi juga oleh kesiapan finansial dalam menghadapi masa-masa sulit. Cadangan operasional menjadi penyangga ketika terjadi penurunan pendapatan, kenaikan biaya produksi, maupun perlambatan permintaan pasar. Dengan adanya dana cadangan, perusahaan memiliki waktu untuk melakukan penyesuaian strategi tanpa harus mengambil keputusan yang tergesa-gesa.

Dr. Noveri menyarankan agar perusahaan memiliki cadangan dana yang mampu menopang kebutuhan operasional setidaknya selama enam bulan. Jika kondisi keuangan memungkinkan, cadangan untuk satu hingga tiga tahun akan memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap berbagai risiko ekonomi. Cadangan tersebut bukan hanya menjadi bentuk antisipasi terhadap kondisi saat ini, tetapi juga bagian dari strategi keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

Bertahan Hari Ini untuk Tumbuh di Masa Depan

Tidak ada pelaku usaha yang menginginkan perlambatan ekonomi. Namun, setiap siklus bisnis selalu menghadirkan tantangan yang harus dihadapi. Dalam pandangan Dr. Noveri, masa sulit tidak seharusnya direspons dengan kepanikan ataupun keputusan yang terlalu agresif. Sebaliknya, kondisi ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat perusahaan dari dalam. Menahan ekspansi, mengelola pengeluaran secara lebih disiplin, memperbaiki proses operasional, serta menjaga kesehatan keuangan merupakan langkah-langkah yang dapat meningkatkan daya tahan bisnis.

Ketika kondisi ekonomi kembali membaik, perusahaan yang telah memiliki pondasi yang kuat akan lebih siap melakukan pengembangan dibandingkan mereka yang terlalu banyak mengambil risiko di masa ketidakpastian. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia bertumbuh, tetapi juga oleh kemampuannya bertahan ketika menghadapi tekanan. Seperti yang disampaikan Dr. Noveri, saat ekonomi bergejolak, fokus utama seorang business owner bukanlah mempercepat ekspansi, melainkan memastikan perusahaan tetap sehat, efisien, dan siap menyambut peluang di masa depan.

Sebagai lembaga yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan, komunikasi, dan kapabilitas organisasi, Talkactive menghadirkan berbagai program pelatihan (training), bimibingan (coaching), dan konsultasi (consulting) bagi business owner maupun perusahaan untuk membantu membangun bisnis yang lebih tangguh di tengah dinamika ekonomi. Bisnis yang mampu bertahan bukan hanya yang memiliki modal besar, tetapi juga yang dipimpin oleh pemimpin yang siap menghadapi perubahan.

Sumber:

  • Wawancara Tim Talkactive dengan Dr. Noveri Maulana (Board of Expert Talkactive) pada Minggu, 21 Juni 2026
  • International Monetary Fund. (2025). World Economic Outlook.
  • McKinsey & Company. Strategy & Corporate Finance Insights
  • World Bank. (2025). Global Economic Prospects
  • World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.

 

Share This:

More Articles

News

No results found.
Buka
Butuh Bantuan?
Halo, Kawan Bicara!
Ada yang bisa kami bantu?