Gen Z sekarang dikit-dikit baper.
Kalimat seperti ini sering muncul di media sosial maupun lingkungan kerja. Ada yang menganggap generasi muda terlalu sensitif terhadap kritik.
Di sisi lain, tidak sedikit karyawan yang merasa masukan dari atasan terkadang disampaikan dengan cara yang kurang nyaman.
Terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal yang pasti: menerima kritik memang tidak selalu mudah.
Tidak ada orang yang langsung senang ketika mendengar pekerjaannya dianggap kurang baik atau perlu diperbaiki.
Namun di dunia kerja, kritik adalah bagian dari proses belajar dan berkembang. Kabar baiknya, kemampuan menerima kritik secara profesional bisa dilatih. Berikut lima cara yang bisa membantu Anda menerima kritik tanpa harus “kena mental”.
Jangan biarkan emosi sesaat menghambat laju karir Anda. Tingkatkan kecerdasan emosional dan pelajari teknik komunikasi asertif di dunia kerja bersama mentor profesional dari Talkactive.
1. Dengarkan Dulu, Jangan Langsung Membela Diri
Saat menerima kritik, reaksi pertama banyak orang adalah menjelaskan atau membela diri.
Padahal, belum tentu kita memahami seluruh maksud dari kritik tersebut.
Cobalah dengarkan sampai selesai.
Biarkan lawan bicara menyampaikan pendapatnya secara utuh.
Setelah itu, baru berikan tanggapan.
Semakin tenang mendengarkan, semakin mudah memahami apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Baca juga: Komunikasi Lintas Generasi di Kantor
2. Jangan Anggap Kritik Sebagai Serangan Pribadi
Salah satu alasan kritik terasa menyakitkan adalah karena kita menganggapnya sebagai serangan terhadap diri sendiri.
Padahal, dalam banyak kasus, yang dikritik adalah pekerjaan atau hasil kerja kita. Misalnya, ketika atasan mengatakan presentasi Anda kurang jelas, bukan berarti Anda tidak kompeten. Ia hanya melihat ada bagian yang bisa ditingkatkan.
Belajar memisahkan kritik terhadap pekerjaan dan kritik terhadap diri sendiri akan membuat Anda lebih mudah menerima masukan secara objektif.
Baca juga: Perspektif Komunikasi Gen Y vs Gen Z: Apa Bedanya?
3. Tanyakan Cara Memperbaikinya
Setelah menerima kritik, jangan hanya fokus pada kesalahannya. Cari tahu apa yang bisa diperbaiki.
Misalnya dengan bertanya:
“Menurut Bapak atau Ibu, bagian mana yang perlu saya perbaiki?”
Atau: “Apa yang bisa saya lakukan agar hasilnya lebih baik?”
Pertanyaan sederhana seperti ini menunjukkan bahwa Anda terbuka untuk belajar. Selain itu, kritik yang tadinya terasa negatif bisa berubah menjadi kesempatan untuk berkembang.
Baca juga: Budaya Feedback di Tempat Kerja untuk Pengembangan Tim
4. Beri Waktu Jika Emosi Sedang Tinggi
Kita harus jujur. Tidak semua kritik mudah diterima. Ada kalanya kita merasa kesal, malu, atau kecewa.
Jika emosi sedang tinggi, jangan terburu-buru bereaksi. Ambil jeda sejenak. Tarik napas. Tenangkan diri terlebih dahulu.
Respons yang diberikan setelah emosi mereda biasanya jauh lebih bijak dibanding respons spontan yang dipicu rasa tersinggung.
Baca juga: Komunikasi Asertif di Kantor: Berhenti Jadi People Pleaser Tanpa Rasa Bersalah
5. Ambil Pelajarannya, Buang Dramanya
Tidak semua kritik disampaikan dengan cara yang sempurna. Kadang ada yang terlalu blak-blakan.
Kadang ada yang terdengar menyakitkan.
Namun daripada terus memikirkan cara penyampaiannya, cobalah fokus pada isi pesannya.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Apa yang bisa saya pelajari dari situasi ini?”
Semakin cepat Anda menemukan pelajarannya, semakin cepat pula Anda berkembang. Karena pada akhirnya, kritik bukan tentang menjatuhkan. Kritik adalah kesempatan untuk melihat hal-hal yang mungkin belum kita sadari.
Baca juga: Punya Atasan Toxic? Jangan Langsung Resign, Terapkan Cara Ini Untuk Menghadapinya
Profesional Bukan Berarti Tidak Pernah Baper
Merasa sedih, kecewa, atau tersinggung setelah menerima kritik adalah hal yang wajar. Semua orang pernah mengalaminya. Menjadi profesional bukan berarti harus kebal terhadap emosi.
Menjadi profesional berarti mampu mengelola emosi tersebut dengan baik. Mendengarkan sebelum bereaksi. Mencari pelajaran di balik kritik. Dan menjadikan setiap masukan sebagai bahan untuk berkembang.
Karena dalam dunia kerja, orang yang terus maju bukanlah mereka yang tidak pernah dikritik. Melainkan mereka yang mampu belajar dari setiap kritik yang diterima.
Kesimpulannya, kemampuan menerima kritik merupakan bagian penting dari komunikasi profesional. Melalui pelatihan komunikasi interpersonal, public speaking, emotional intelligence, dan leadership communication, Talkactive membantu individu maupun organisasi membangun budaya komunikasi yang lebih sehat, terbuka, dan produktif di tempat kerja.
Tingkatkan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Anda
Mampu menerima kritik dengan elegan hanyalah salah satu bagian dari komunikasi profesional yang efektif. Seringkali, miskomunikasi di tempat kerja terjadi bukan hanya karena apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara kita meresponsnya. Jika Anda atau tim di perusahaan ingin membangun budaya komunikasi yang lebih terbuka, asertif, dan minim drama emosional, mengikuti program pelatihan bisa menjadi investasi terbaik.
Melalui Pelatihan Komunikasi Interpersonal dari Talkactive, Anda akan membedah teknik komunikasi tingkat lanjut, cara merespons secara objektif, hingga praktik kecerdasan emosional di dunia kerja. Jadikan setiap feedback sebagai bahan bakar akselerasi karir Anda, bukan alasan untuk patah semangat.
FAQ :
-
Mengapa Gen Z sering dianggap “baperan” saat dikritik di tempat kerja?
Hal ini sering terjadi karena perbedaan gaya komunikasi antar generasi. Gen Z cenderung mengutamakan empati dan kesehatan mental, sementara generasi sebelumnya terbiasa dengan gaya komunikasi direktif dan blak-blakan. -
Bagaimana cara merespon kritik dari atasan yang terkesan menjatuhkan?
Tetap tenang dan dengarkan hingga selesai. Pisahkan emosi dari pesan yang disampaikan. Fokuslah pada fakta dan tanyakan aspek spesifik mana dari pekerjaan Anda yang perlu diperbaiki, bukan fokus pada nada bicaranya. -
Apa bedanya kritik membangun (konstruktif) dan kritik destruktif?
Kritik membangun berfokus pada pekerjaan, proses, dan menawarkan solusi untuk perbaikan. Sebaliknya, kritik destruktif biasanya menyerang karakter pribadi tanpa memberikan arahan yang jelas. -
Bagaimana jika saya dikritik atasan di depan rekan kerja yang lain?
Kendalikan emosi untuk tidak defensif saat itu juga. Setelah situasi mendingin, Anda bisa meminta waktu berdiskusi empat mata dengan atasan untuk membahas masukan tersebut sekaligus menyampaikan batasan profesional Anda. -
Apakah wajar merasa sedih atau marah setelah menerima kritik?
Sangat wajar. Menerima evaluasi negatif secara alamiah akan memicu respons emosional. Kuncinya adalah tidak langsung merespons saat emosi sedang tinggi. Beri waktu diri sendiri untuk mencerna masukan tersebut secara logis.
Sering terjadi miskomunikasi dan drama saat evaluasi kinerja tim? Bangun budaya kerja yang lebih sehat dan produktif dengan In-House Training Komunikasi Interpersonal untuk perusahaan Anda.
Referensi
- Douglas Stone & Sheila Heen. Thanks for the Feedback: The Science and Art of Receiving Feedback Well.
- Carol S. Dweck. Mindset: The New Psychology of Success.
- Daniel Goleman. Emotional Intelligence.
- Harvard Business Review. How to Take Criticism Well.
- Psychology Today. Why Feedback Feels Personal.





